Catatan Redaksi 15 Oktober 2026: Artikel ini telah diverifikasi dan ditulis ulang. Versi sebelumnya diterbitkan tanpa sumber terverifikasi.
Survei S&P Global menunjukkan aktivitas manufaktur Indonesia melemah pada Agustus 2026. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke 49,8 dari 50,2 pada Juli, sehingga masuk zona kontraksi. Seperti dikutip dari ICIS yang melaporkan survei S&P Global pada 3 September 2026, penurunan itu didorong melemahnya output dan penyerapan tenaga kerja, sementara kondisi permintaan relatif netral dan tekanan inflasi terus mereda.
Di tingkat kawasan, PMI Manufaktur ASEAN melambat menjadi 52,3 pada Agustus dari 52,8 pada Juli, tetapi tetap berada di zona ekspansi. Dilansir dari sumber yang sama, pesanan baru naik pada laju tercepat kedua sepanjang sejarah survei, dan kepercayaan terhadap output setahun ke depan naik ke level tertinggi hampir empat tahun. Namun pertumbuhan produksi melambat, sementara lapangan kerja dan stok pembelian kembali masuk kontraksi.
Sebagai konteks, angka PMI di atas 50 menandakan ekspansi, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi. Survei kawasan mencakup Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, yang secara kolektif menyumbang 98 persen nilai tambah manufaktur ASEAN.
Pada survei berikutnya, PMI manufaktur Indonesia kembali naik ke 52,4 pada September 2026, seperti dikutip dari laporan S&P Global. Angka itu menunjukkan kontraksi Agustus bersifat sementara.
Sumber:
- ICIS — Asia manufacturing growth continues in Aug; Indonesia output contracts (3 September 2026, diakses 15 Oktober 2026).
- RTTNews via Myfxbook — Indonesia Manufacturing Sector Climbs Into Expansion, S&P Global (diakses 15 Oktober 2026).



Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!